KY Sapa Sobat KY di Bandung
KY menggagas community engagement dengan mengunjungi langsung pengikut media sosial KY atau Sobat KY di Bandung dengan tujuan untuk membantu KY mewujudkan peradilan bersih melalui media sosial.

Bandung (Komisi Yudisial) – Dari dunia maya bertemu di dunia nyata, yaitu melalui kegiatan Sapa Sobat Komisi Yudisial (KY). KY menggagas community engagement dengan mengunjungi langsung pengikut media sosial KY atau Sobat KY di Bandung dengan tujuan untuk membantu KY mewujudkan peradilan bersih melalui media sosial. 
 
Berkonsep ngobrol santai bersama KY bertema Suarakan Peradilan Bersih di Media Sosial, Jumat (19/07) di Lo.Ka.Si Coffee & Space, Bandung, acara ini diikuti oleh puluhan follower media sosial KY dari berbagai latar belakang yang berbeda. 
 
Hadir sebagai narasumber Anggota KY Farid Wajdi, Jurnalis senior Pikiran Rakyat Deni Yudiawan, dan Peneliti Pusat Studi Kebijakan Negara Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Wicaksana Dramanda. 
 
Farid Wajdi dalam kesempatan tersebut menceritakan secara singkat sejarah media sosial KY. Atmosfer informasi yang trend sekarang inilah yang mengharuskan KY untuk fokus pada penggunaan media sosial. Kemudian KY mulai berbenah hingga saat ini.
 
“Walaupun dari segi jumlah, sebenarnya follower KY masih kalah jauh dengan Kementerian/Lembaga lain. Tapi dari segi interaksi, kita lebih baik, terutama dari engagement dengan follower. Tapi KY tentu tidak terlena begitu saja, kita tetap berupaya meningkatkan kualitas penggunaan media sosialnya. Sejak tahun 2018, KY sudah semakin aktif berhubungan dengan follower dan anggota mailing list,” buka Farid. 
 
Demokrasi melalui cuitan itu perlu. Konteks peradilan bersih terkait pada fakta bahwa peradilan itu adalah milik dan untuk kepentingan bangsa. Tugas menjaga peradilan bersih tidak hanya pada KY, aparat penegak hukum, sarjana hukum, tapi tanggung jawab kita semua. Suara publik untuk meyuarakan peradilan bersih itu penting. 
 
“Penting diingat, dunia maya merupakan pantulan dari dunia nyata, kedua dunia itu harus berkorelasi. Jangan sampai kita bermuka dua. Jangan sampai jari kita lebih cepat daripada otak kita,” pesan Farid. (KY/Noer/Festy)

Berita Terkait